7 Perbedaan Hypertrophic Scar vs Keloid dan Cara Mengatasinya

hypertrophic scar vs scar

7 Perbedaan Hypertrophic Scar vs Keloid dan Cara Mengatasinya

08/08/2025

Di Tinjau oleh Dokter

Bekas luka merupakan reaksi alami tubuh dalam memperbaiki kerusakan akibat cedera, operasi, atau peradangan kulit berat seperti jerawat. Namun, terkadang proses penyembuhan luka tidak berjalan sempurna sehingga menimbulkan bekas luka yang menonjol. Kondisi ini dapat memengaruhi penampilan atau menimbulkan rasa tidak nyaman. Adapun dua jenis bekas luka terangkat yang sering disalahartikan, yaitu hypertrophic scar vs keloid.

Meskipun sekilas tampak serupa, keduanya sebenarnya memiliki perbedaan mendasar dari segi penyebab, karakteristik, hingga metode penanganan yang efektif. Mengerti perbedaan ini adalah kunci utama untuk menentukan perawatan yang paling tepat dan efektif bagi kondisi Anda. 

Untuk memahami lebih jauh, mari kita selami apa sebenarnya hypertrophic scar dan keloid itu, serta temukan perbedaan-perbedaan mendasar yang memisahkan keduanya!

Apa itu Hypertrophic Scars? 

Bekas luka hipertrofik adalah area kulit menebal akibat produksi kolagen berlebih saat penyembuhan luka. Kondisi satu ini sendiri bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti adanya infeksi pada luka atau peningkatan ketegangan pada area yang terluka selama proses penyembuhan. Kondisi di mana tubuh memproduksi kolagen secara berlebihan inilah yang berdampak pada bekas luka menjadi terasa lebih padat dan tidak rata, berbeda dengan tekstur kulit normal di sekitarnya.

Beragam kondisi seperti luka bakar, luka sayat, gigitan serangga, jerawat meradang, atau infeksi kulit lainnya juga dapat memicu munculnya hypertrophic scars.

Untuk mengenali hypertrophic scar, perhatikan beberapa ciri khasnya berikut ini:

  • Bewarna antara merah muda hingga merah terang
  • Permukaan bisa tampak sedikit menonjol atau tetap rata
  • Mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman atau gatal
  • Umumnya muncul dalam beberapa minggu setelah terjadi cedera
  • Hanya berkembang di area luka tanpa melebar ke jaringan sekitarnya

Baca Juga: Hypertrophic Scar: Pengertian, Penyebab, Ciri-ciri, dan Cara Mengobatinya

Apa itu Keloid?

Keloid adalah bekas luka menonjol yang tumbuh melampaui batas luka awal akibat produksi kolagen berlebih (hingga 20 kali lipat normal), berbeda dengan hypertrophic scar yang terbatas pada area luka.

Selain jumlahnya yang berlebihan, struktur kolagen pada keloid juga tersusun secara tidak beraturan. Karena sifat pertumbuhannya yang tidak terkendali, keloid sering disebut sebagai tumor jinak, meskipun tidak membahayakan kesehatan tubuh secara umum. 

Kondisi keloid umumnya bisa muncul akibat berbagai jenis cedera kulit, mulai dari luka berat hingga luka ringan yang sering kali tidak disadari, seperti luka sayat, jerawat, luka bakar, atau infeksi kulit. 

Faktor genetik sangat memengaruhi kecenderungan seseorang mengalami keloid. Sekitar sepertiga penderita keloid memiliki riwayat keluarga dengan kondisi serupa. Keloid lebih sering terjadi pada individu berkulit gelap dengan risiko yang sama antara pria dan wanita.

Berikut beberapa karakteristik keloid yang dapat Anda ketahui:

  • Umumnya berwarna merah dengan nuansa keunguan
  • Memiliki tekstur yang halus, terasa kencang, dan menonjol
  • Sering menimbulkan rasa gatal atau ketidaknyamanan
  • Bisa muncul lama setelah cedera, bahkan hingga bertahun-tahun kemudian
  • Pertumbuhannya meluas melebihi batas luka awal

Baca Juga: Pahami Keloid Bekas Jerawat dan Tips Menghilangkannya

Perbedaan Hypertrophic Scar vs Keloid

Walaupun sama-sama muncul akibat proses penyembuhan luka yang tidak optimal, ada beberapa perbedaan utama antara hypertrophic scar vs keloid yang perlu Anda ketahui. Berikut di antaranya:

1. Area Penyebaran

  • Hypertrophic Scar: Bekas luka hipertrofik terbatas pada area luka awal dan tidak menyebar ke jaringan sehat. Bekas luka ini menebal atau terangkat hanya di area cedera pertama.
  • Keloid: Keloid berbeda karena tumbuh melampaui batas luka awal dan meluas ke kulit sehat di sekitarnya, membuat bekas luka lebih besar dari luka aslinya.

2. Waktu Muncul dan Perkembangannya

  • Hypertrophic Scar: Bekas luka ini biasanya mulai muncul dan berkembang dalam waktu satu hingga dua bulan setelah cedera awal terjadi. Perkembangan penebalannya bisa terus berlanjut selama beberapa bulan. 
  • Keloid: Keloid biasanya berkembang secara perlahan dan sering baru tampak jelas beberapa bulan hingga beberapa tahun setelah terjadinya luka. Setelah muncul, keloid umumnya akan terus tumbuh dan membesar seiring waktu, berbeda dengan hypertrophic scar yang biasanya tetap stabil.

3. Perubahan Ukuran dari Waktu ke Waktu

  • Hypertrophic Scar: Kabar baiknya, bekas luka hypertrophic biasanya dapat mengecil atau mengalami perbaikan ukuran secara alami dalam waktu sekitar satu tahun.
  • Keloid: Keloid berbeda dari bekas luka lain karena ukurannya cenderung menetap dan jarang menyusut, bahkan dapat terus bertambah besar jika tidak diobati.

4. Perbedaan Warna

  • Hypertrophic Scar: Umumnya, warna bekas luka hypertrophic berkisar antara merah muda cerah hingga kemerahan.
  • Keloid: Salah satu ciri khas keloid adalah warnanya yang lebih gelap dari kulit sekitar, seringkali merah keunguan pekat atau cokelat tua.

5. Pengaruh Terhadap Gerakan

  • Hypertrophic Scar: Jika hypertrophic scar berukuran besar, terutama yang tumbuh di dekat sendi, ada potensi bekas luka tersebut dapat membatasi ruang gerak sendi atau menyebabkan kekakuan. Ini terjadi karena penebalan bekas luka dapat memendekkan jaringan kulit di sekitarnya.
  • Keloid: Meskipun ukurannya bisa sangat besar dan meluas, keloid umumnya tidak memengaruhi gerakan sendi secara signifikan, kecuali jika posisinya memang sangat tepat di atas sendi dan ukurannya yang cukup besar atau luas.

6. Frekuensi Terjadinya

  • Hypertrophic Scar: Hypertrophic scar lebih umum terjadi dibandingkan keloid.
  • Keloid: Meskipun secara umum tidak terlalu sering terjadi, keloid lebih rentan muncul pada individu-individu dari kelompok populasi tertentu.

7. Lokasi yang Paling Sering Terjadi

  • Hypertrophic Scar: Setelah cedera, bekas luka ini bisa muncul di area tubuh mana pun, tidak terbatas pada lokasi tertentu. Namun, kondisi ini lebih sering ditemukan di area yang mengalami infeksi, iritasi, kurang mendapatkan perawatan yang tepat, atau di sekitar sendi yang sering bergerak dan menyebabkan ketegangan pada luka.
  • Keloid: Area tubuh yang lebih sering terbentuk keloid adalah dada, punggung atas, telinga, dan pipi.

Baca Juga: 3 Cara Menghilangkan Hypertrophic Scar

Cara Mengatasi Hypertrophic Scar dan Keloid 

Meskipun hypertrophic scar dan keloid memiliki perbedaan, keduanya dapat ditangani dengan berbagai pilihan perawatan untuk mengurangi tampilan dan rasa tidak nyaman yang ditimbulkannya. Berikut beberapa metode yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi hypertrophic scar dan keloid:

1. Memilih Produk Perawatan yang Sesuai

Dalam merawat bekas luka, sangat dianjurkan untuk menggunakan produk perawatan kulit yang diformulasikan khusus untuk menangani bekas luka. Pilihlah produk seperti gel silikon atau krim yang mengandung bahan aktif yang terbukti efektif dalam membantu proses regenerasi kulit secara optimal.

2. Menjaga Kebersihan dan Kelembapan Kulit

Menjaga kebersihan dan kelembapan pada area bekas luka adalah langkah perawatan yang penting. Pastikan area tersebut selalu bersih untuk mencegah infeksi yang bisa memperparah kondisi. Selain itu, sangat penting untuk menjaga kulit tetap terhidrasi dengan baik. 

Gunakanlah pelembap yang cocok secara rutin untuk membantu menjaga elastisitas kulit di area bekas luka dan sekitarnya. Kulit yang lembap cenderung lebih sehat dan kenyal. Menghindari kondisi kulit yang kering pada bekas luka sangat penting karena kekeringan dapat membuat tampilan bekas luka terlihat lebih buruk. 

3. Melindungi Kulit dari Paparan Sinar Matahari

Melindungi bekas luka dari paparan sinar matahari merupakan langkah yang sangat penting. Sinar ultraviolet (UV) dapat memperburuk kondisi bekas luka, terutama saat kulit masih dalam proses penyembuhan. Karena itu, penggunaan sunscreen dengan SPF tinggi secara rutin sangat disarankan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Selain itu, perlindungan ini juga membantu menghindari perubahan warna (hiperpigmentasi) dan mencegah bekas luka menjadi lebih tebal.

4. Mencegah Tekanan Berlebih di Area Luka

Untuk bekas luka yang terletak di area tubuh yang sering bergerak atau rentan terhadap gesekan, seperti pada siku atau lutut, ada baiknya Anda memberikan perlindungan ekstra. Menggunakan pelindung tambahan pada area tersebut dapat membantu mengurangi tekanan yang terus-menerus terjadi. Langkah pencegahan ini penting karena tekanan dan gesekan berulang dapat memicu pembentukan jaringan parut yang berlebihan dan membuat bekas luka semakin menebal.  

5. Berkonsultasi dengan Profesional

Terakhir, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis profesional, seperti dokter kulit atau dokter estetika. Mereka dapat memberikan rekomendasi perawatan yang lebih spesifik dan efektif, termasuk beberapa perawatan yang tersedia di Plasthetic Clinic berikut ini:

Dalam perawatan ini, dokter akan menyuntikkan obat kortikosteroid langsung ke dalam jaringan parut. Steroid sendiri bekerja dengan cara mengurangi peradangan, menekan produksi kolagen yang berlebihan, dan membantu memecah serat kolagen yang sudah ada, sehingga bekas luka menjadi lebih lunak, rata, dan warnanya memudar. Injeksi biasanya perlu diulang secara berkala (misalnya, setiap 4-6 minggu) untuk hasil yang optimal.

Laser Keloid adalah perawatan yang bertujuan untuk mengatasi bekas luka, seperti operasi, luka bakar, luka akibat tindik, goresan, atau cakaran, yang berkembang menjadi keloid. 

Melalui teknologi laser khusus, perawatan ini membantu mengurangi ukuran keloid, memperbaiki warna kulit yang kemerahan, kehitaman, atau keunguan, serta dilakukan dengan nyaman tanpa rasa nyeri berlebihan. 

Laser CO2 adalah teknologi laser ablatif yang bekerja dengan merangsang respons penyembuhan alami tubuh, mendorong produksi kolagen baru yang lebih teratur, dan membantu meratakan tekstur permukaan kulit. 

Prosedur ini dinilai efektif untuk memperbaiki tekstur hypertrophic scar dan beberapa jenis keloid yang sudah tidak terlalu aktif, membuatnya tampak lebih menyatu dengan kulit sekitar.

Kesimpulan

Membedakan antara hypertrophic scar dan keloid sangatlah penting karena keduanya memerlukan pendekatan penanganan yang mungkin berbeda. Meskipun keduanya bisa mengganggu, jangan khawatir, karena teknologi medis saat ini menawarkan solusi efektif.

Jika Anda memiliki bekas luka menonjol yang membuat Anda tidak nyaman atau khawatir, langkah terbaik adalah berkonsultasi langsung dengan ahlinya. Di Plasthetic Clinic, tim dokter spesialis kami siap membantu Anda dengan mendiagnosis jenis bekas luka Anda secara akurat dan merekomendasikan rencana perawatan terbaik yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda, mulai dari Keloid Injection, perawatan Laser Keloid, hingga Laser CO2.

Jangan biarkan bekas luka menghalangi kepercayaan diri Anda, langsung saja konsultasikan permasalahan Anda di klinik kecantikan kulit kami dan temukan solusi terbaik untuk kulit Anda! Semoga informasi mengenai hypertrophic scar vs keloid di atas dapat bermanfaat untuk Anda!

Plasthetic Clinic, Enhance Your Quality Of Life!

Ditinjau oleh: dr. Mardhatillah 

Sumber:

https://www.healthline.com/health/keloid-versus-hypertrophic-scar#hypertrophic-scars 

https://dermnetnz.org/topics/keloid-and-hypertrophic-scar 

https://jakartaaestheticclinic.co.id/blog/hypertrophic-scar-adalah/

Banner Plasthetic Aesthetic

web banner disclaimer

SHARE THIS ARTICLE IN:

Plasthetic Clinic Logo New-01 (3) (2)

Recent Articles

clitoral-hood-reduction

Clitoral Hood Reduction: Pengertian, Fungsi, dan Prosedurnya

Read More
cara-alami-mengencangkan-kulit-wajah-berminyak

7 Cara Alami Mengencangkan Kulit Wajah Berminyak

Read More
facelift atau botox

Facelift atau Botox? Temukan yang Sesuai untuk Wajah Anda

Read More

We Prioritize our Customers

Dapatkan perawatan dan prosedur terbaik hanya di Plasthetic Clinic!